RSS

Happy New Year (OR NOT)

14 Jul
This entry was published at http://chiawono.blog.friendster.com/ on January 7, 2008 with the title Happy New Year (OR NOT).

Tahun 2008 adalah tahun yang baru. Menjelang pergantian tahun, kita menghitung mundur menuju tahun baru. 6, 5, 4, 3, 2, 1, dan tahu-tahu kita sudah berada di tahun yang baru. Tahun baru yang diharapkan menjadi tahun yang lebih baik. Kita memperlengkapi diri dengan semangat baru, resolusi baru, rencana baru, baju baru, sepatu baru, dan semua yang baru-baru. Dengan optimisme tinggi kita melangkah menuju ke hari depan yang baru. Tahun 2008. Inilah tahun yang baru untuk kita. Inilah saatnya kita unjuk gigi. Inilah tahun kita.

Stop di sana. Benarkah demikian? Hal ini pasti ada dalam benak sebagian besar dari kita. Tahun baru terasa sebagai momentum yang menggelegar bagi kita. Tapi sekali lagi, benarkah demikian? 1 Januari 2008 pukul 00:00 hanyalah 31 Desember 2007 23:59 ditambah 1 menit. Lebih spesifik lagi kita dapat mengatakan itu hanyalah tahun yang lama ditambah 1 detik. Apa yang baru kalau demikian? Pengkotbah, Sang Raja Yerusalem, menuliskan dengan getir bahwa tidak ada sesuatupun yang baru di bawah matahari. Matahari terbit dan terbenam dan akan terulang lagi terus-menerus melewati minggu, bulan, tahun, abad, dan tetap akan demikian. Tidak ada yang baru sama sekali.

Apa yang berubah di tahun yang baru? Kita berharap banyak hal berubah ke arah yang lebih baik. Tapi sayang sekali keinginan kita mungkin tidak akan terwujud sama sekali. Matius 24 mengutip nubuatan Yesus bahwa semakin menjelang akhir zaman, Bumi akan menjadi tempat yang semakin tidak aman dan nyaman untuk ditinggali. Global Warning yang kita dengar belakangan ini, ternyata sudah disuarakan Yesus jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan bukan hanya Bumi saja, tetapi manusia pun semakin terjerumus ke dalam rupa-rupa kesukaran dan dosa. Hal ini dapat kita temukan dalam surat Paulus kepada Timotius.

Jadi, seburuk itukah tahun 2008 ini bagi kita? Salahkah kita ketika memperingati pergantian tahun dengan euforia setinggi-tingginya seperti yang kita lakukan? Tentunya tidak sama sekali. Perhatikanlah beberapa paragraf berikut ini dengan seksama.

Orang Yunani memiliki cara yang unik memandang waktu. Mereka memandang waktu menurut dua definisi dan filsafat. Yang pertama adalah waktu sebagai kronos. Filsafat di balik ini mirip dengan apa yang dilukiskan Pengkotbah yaitu bahwa hari ini berlalu dan besok datang dan besok menjadi hari ini dan hari ini akan berlalu dan besok datang dan besok menjadi hari ini dan seterusnya. Menjalani hidup kita dari hari ke hari dengan mengetahui bahwa hari ini akan menjadi kemarin dan besok akan menjadi hari ini dan hidup kita akan sama-sama saja. Inilah Sang Waktu sebagai kronos. Dengan berpikir seperti demikian, maka 1 menit perbedaan tahun 2007 dan 2008 adalah sama saja dengan 1 menit perbedaan 1 menit yang lalu dan sekarang dan sama saja dengan setiap menit yang ada dalam hidup kita.

Tetapi cara pandang yang kedua dikenal dengan sebutan kairos. Filsafat di balik definisi ini sangat menarik karena seolah-olah kronos ditarik keluar setiap elemennya dan dijadikan satu elemen yang berdiri sendiri dan dipajang agar kita dapat melihatnya satu per satu. Kairos adalah filsafat bahwa waktu tidak akan terulang. Kairos berarti waktu adalah kesempatan. 1 menit pergantian tahun dan 1 menit setelahnya adalah menit-menit yang sangat berbeda. Ini lalu membawa kita ke dalam satu pengertian bahwa setiap waktu yang ada sangat mahal harganya dan harus dipandang sebagai satu kesempatan. Inilah cara pandang Paulus ketika ia menuliskan perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Paulus mengerti bahwa 1 menit yang tidak dipergunakan untuk hidup bagi Tuhan adalah 1 menit yang sia-sia. Inilah sebabnya kita memandang setiap awal tahun dan saat-saat tertentu dalam 1 tahun sebagai momentum untuk lebih menggairahkan hidup kita. Inilah sebabnya kita melakukan retrospeksi dan membuat resolusi. Karena hari-hari ini adalah jahat dan Tuhan menghendaki kita mempergunakan kairos yang ada dengan sebaik-baiknya.

Ada baiknya bagi kita untuk belajar mempergunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya dengan belajar kepada seorang bijaksana yang pernah hidup selama 120 tahun. Selama hidupnya ia pernah tinggal di berbagai tempat, memiliki beberapa kewarganegaraan, dihormati, memiliki segalanya. Pernah juga ia diusir dari tempat tinggalnya, hampir dibunuh bahkan sejak bayi, menggembalakan domba dan menggembalakan orang-orang yang sering menolaknya, dan banyak lagi pengalaman yang ia miliki sebagai pejabat, imam, gembala, panglima perang, nabi, pelarian, dan lain-lain. Musa, ratusan tahun sebelum Pengkotbah hidup, mengajarkan kepada kita bahwa Tuhanlah yang dapat mengajarkan kepada kita bagaimana menghitung hari-hari sedemikian sehingga kita memperoleh hati yang bijaksana.

Mengapa penting sekali bagi kita untuk menghitung hari-hari kita? Pengkotbah yang semula mengeluhkan tentang kronos yang monoton akhirnya pun mengajarkan kepada kita bahwa dalam kita menjalani hidup kita, tidak mungkin kita dapat menyelami pekerjaan Tuhan seluruhnya. Karena itu, hitunglah hari-hari kita, berharap kepada Tuhan dan kasih-Nya yang besar dan percayalah, seperti dipercaya juga oleh Sang Pengkotbah, bahwa Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya bahkan Ia memberikan kekekalan di dalam hati kita. Amin. Selamat tahun baru 2008.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 14, 2009 in It's A Short Life

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: