RSS

The Case with Genealogy

14 Jul

This entry was published at http://chiawono.blog.friendster.com/ on May 6, 2008 with the title For Selvi: The Case with Genealogy.

Banyak hal yang nampaknya normal di dalam kehidupan ini seringkali menyimpan misteri atau maksud tersendiri. Orang-orang biasanya tidak akan menyadari hal ini, tetapi seringkali, muncul orang-orang berpikiran kritis yang lalu mempertanyakan dan mendapatkan jawaban dan kemudian menjadi selangkah lebih berpengetahuan atau berpengalaman. Sebagai contoh, tidak pernah ada orang yang bingung melihat telinga kelinci karena kelinci memang dikenal sebagai binatang bertelinga panjang. Tetapi kemudian dari ensiklopedia kita menemukan bahwa ternyata kelinci memiliki telinga yang panjang karena alasan-alasan tertentu antara lain untuk dapat mendengar jauh.

Sebagai orang percaya, kita akan mengaminkan hasil ciptaan Tuhan. Tuhan tidak membuat sesuatu yang sia-sia. Termasuk juga di dalam proses inspirasi Firman Tuhan atau Alkitab. Tidak ada bagian yang dicantumkan secara sia-sia dan tidak ada bagian yang tidak terlalu penting sehingga dapat dicabut dari dalamnya. Yohanes dalam Kitab Wahyu memberikan peringatan yang sangat jelas tentang hal ini. Tetapi harus kita akui, ada bagian-bagian dalam Alkitab kita yang seringkali kita lewatkan begitu saja karena nampaknya sangat normal bagian tersebut berada di sana. Bahkan kita cenderung merasa bahwa bagian ini hanya merupakan pelengkap atau pengantar yang kurang penting dari bagian lainnya. Salah satunya adalah bagian silsilah Yesus Kristus.

Silsilah Yesus Kristus dapat kita temukan di Matius 1:1-17 dan Lukas 3:23-38. Terdapat sedikit perbedaan di dalam kedua bagian tersebut dan menimbulkan beberapa tafsiran yang berbeda, tetapi untuk sementara ini kita dapat abaikan hal tersebut. Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah, mengapa perlu dicantumkan silsilah Yesus Kristus di dalam Kitab Injil? Dan dengan mengerti alasan mengapa silsilah tersebut dicantumkan, kita akan mengerti apa implikasinya bagi kita di dalam kehidupan kita di zaman modern dua ribu tahun setelah silsilah tersebut dituliskan.

Silsilah Yesus Kristus bukanlah sekedar bagian pembuka dari Injil Matius. Dalam Injil Matius, bagian ini sangat penting karena Injil Matius merupakan Injil yang sangat Yahudi. Ditulis oleh orang Yahudi dan ditujukan mula-mula untuk kalangan orang-orang Yahudi. Hal ini terlihat dari beberapa hal antara lain ketergantungannya pada janji dan nubuatan Perjanjian Lama, penggunaan istilah-istilah khas Yahudi (Israel), dan rujukan ke beberapa tradisi dan kebiasaan orang-orang Yahudi tanpa memberikan keterangan lebih detail tentang hal tersebut. Dengan latar belakang yang sangat Yahudi ini, silsilah Yesus Kristus menjadi sangat penting.

Orang Yahudi sangat memandang penting silsilah keluarga. Mereka menjunjung nama baik keluarga, tanah pusaka keluarga, garis keturunan dalam keluarga, dan lain-lain. Garis keturunan ini begitu pentingnya sehingga orang-orang Yahudi memiliki banyak aturan mengenai hal ini. Sebagai contoh, jika seorang kepala keluarga meninggal tanpa penerus, maka saudaranya harus menikahi isterinya untuk memberikan keturunan bagi saudaranya yang meninggal tersebut. Sesuatu yang mungkin konyol kedengarannya bagi kita pada saat ini. Ketika Matius ingin memberitakan mengenai Yesus, ia harus memulai dari memberikan asal muasal Yesus Kristus terlebih dahulu. Memunculkan tokoh tanpa latar belakang akan berakibat tulisan tersebut ditolak bahkan sebelum dibaca.

Kedua, pada saat Injil Matius dituliskan sekitar beberapa saat sebelum tahun 70 M, kemungkinan besar masih terdapat orang-orang yang terlibat dengan kejadian-kejadian seputar kehidupan Yesus Kristus. Setidaknya, keturunan pertama dari generasi yang sezaman dengan Yesus pasti masih ada. Sehingga dengan adanya silsilah tersebut, orang-orang Yahudi akan dapat berhubungan dengan fakta bahwa Yesus pernah hidup di tengah-tengah mereka, berbicara dan bertindak. Saudara-saudara dan teman-teman Yesus sendiri pun masih menjadi saksi akan kehidupan-Nya. Dicantumkannya silsilah ini menunjukkan keabsahan Injil Matius di kalangan orang Yahudi. Dan dengan ditunjukkannya keabsahan di kalangan orang Yahudi, bisa dipastikan juga keabsahan Injil ini dimana-mana.

Ketiga, salah satu poin yang mungkin paling penting, dalam silsilah ini terlihat suatu penggenapan indah dari nubuatan-nubuatan tentang kedatangan Mesias. Terutama dinubuatkan bahwa Mesias adalah Anak Daud dan berasal dari suku Yehuda. Ini menjawab kerinduan orang Israel secara umum akan datangnya Mesias yang sudah dijanjikan bagi mereka. Mereka terus mengingat bahwa Anak Daud akan datang dan menegakkan kembali tahta Daud dan tahta itu akan kokoh selama-lamanya.

Keempat, pencantuman silsilah Yesus Kristus dalam Injil Matius memunculkan berbagai macam drama tentang kisah di balik kelahiran Yesus berkaitan dengan karya-karya Tuhan yang terjadi sebelum kedatangan Mesias. Kita melihat Abraham dan mengingat cerita mengenai iman seorang yang disebut bapa orang beriman. Kita melihat Ishak dan Yakub dan Peres dan Tamar dan Rahab dan Rut dan Daud dan Batsyeba dan Salomo dan raja-raja Yehuda dan pembuangan ke Babel dan banyak lagi kisah-kisah dimana Tuhan berperan sangat besar. Kehadiran silsilah di awal Injil ini membawa pembacanya mengingat kembali akan besarnya karya Tuhan dan apa yang Dia lakukan dalam mempersiapkan kedatangan Yesus di dunia ini sebagai Mesias.

Sebenarnya masih cukup banyak alasan lain yang bisa kita gali sehubungan dengan dituliskannya silsilah Yesus Kristus di dalam kitab Injil. Kita juga dapat membahas mengenai penulisan Lukas dan pemilihan silsilah yang ia gunakan dan melihat sudut pandang non-Yahudi dalam peristiwa kelahiran. Tetapi untuk sementara ini, marilah kita melihat bahwa bagian ini ada di dalam Alkitab demi suatu maksud yang nyata. Dan itu adalah bahwa kita yang membacanya pada hari ini akan tertegun dan memperoleh suatu pemahaman bahwa karya Tuhan adalah suatu karya yang maha sempurna. Dipersiapkan dengan matang dan dibumbui berbagai macam nubuatan dan peristiwa dan digenapi dengan sempurna pada saat yang paling tepat. Dalam penggenapannya pun kita melihat bahwa secara tradisi dan sejarah pun kita dapat membuktikan hadirnya Anak Allah di dalam dunia ini.

Mengapa kelinci telinganya panjang? Pada akhirnya jawabannya adalah karena ingin menunjukkan kemuliaan Tuhan. Demikian juga dengan ditempatkannya silsilah Yesus Kristus yang bagi sebagian orang membosankan itu. ”Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” Amin.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 14, 2009 in It's A Short Life

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: